PROFIL DESA KARANGJATI
Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan

Desa Karangjati merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Desa ini memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di jalur penghubung kawasan perkotaan Pandaan serta berdekatan dengan pusat aktivitas ekonomi, industri, dan permukiman.
Secara administratif, Desa Karangjati resmi terbentuk dan diakui sebagai pemerintahan desa pada tanggal 18 Juli 1984, dengan dasar hukum Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa.
Asal-Usul dan Sejarah Desa Karangjati
Secara kultural, asal-usul terbentuknya wilayah Karangjati tidak terlepas dari cerita lisan masyarakat dan jejak peninggalan sejarah yang masih dapat dijumpai hingga saat ini. Di berbagai dusun terdapat makam para sesepuh desa yang diyakini sebagai tokoh babat alas atau perintis wilayah, di antaranya Mbah Gimbal, Mbah Aryo Wiryo, Mbah Cholifah, Mbah Simokerto, Buyut Podi, Mbah Citro, hingga Mbah Syekh Abdul Rohman.
Selain makam sesepuh, terdapat pula peninggalan alam dan situs budaya seperti kedung (dawuhan), sumber air, serta petilasan, yang menjadi bagian dari sejarah panjang terbentuknya Desa Karangjati. Nama “Karangjati” sendiri tidak lepas dari keberadaan pohon jati yang dahulu tumbuh di wilayah ini dan menjadi identitas kuat masyarakat setempat.
Seiring perkembangan zaman dan pembangunan, sebagian situs tersebut mulai berkurang, namun nilai sejarah dan kearifan lokalnya tetap dijaga dan dikenang oleh masyarakat.
Kondisi Geografis Desa

(IPeta wilayah Desa Karangjati)
Secara geografis, Desa Karangjati berada di wilayah dataran rendah dengan ketinggian antara 200–250 meter di atas permukaan laut. Luas wilayah Desa Karangjati mencapai kurang lebih 328,40 hektare, dengan batas wilayah sebagai berikut:
- Sebelah Utara : Kelurahan Jogosari
- Sebelah Timur : Desa Wedoro
- Sebelah Selatan : Desa Tanjungarum
- Sebelah Barat : Kelurahan Petungasri
Jarak Desa Karangjati ke pusat pemerintahan Kecamatan Pandaan sekitar 1,8 kilometer, sedangkan ke pusat pemerintahan Kabupaten Pasuruan kurang lebih 19 kilometer. wilayah yang memiliki jantung kota di exit tol pandaan dan pusat perdagangan tamandayu pandaan ini juga memiliki Letak geografis yang strategis sehingga menjadikan Desa Karangjati sebagai salah satu wilayah poros perkotaan dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi.
Demografi dan Wilayah Administrasi

(Ilustrasi Gambar: Grafik penduduk atau peta dusun)
Berdasarkan data administrasi kependudukan, jumlah penduduk Desa Karangjati tercatat sekitar 11.220 jiwa dengan jumlah 4.759 Kepala Keluarga. Penduduk tersebut tersebar di 8 dusun, yaitu:
- Dusun Karangkepuh
- Dusun Kedungrejo
- Dusun Kalitengah
- Dusun Jatianom
- Dusun Jetak
- Dusun Lebaksari
- Dusun Sangarejo
- Dusun Sukorejo
Masing-masing dusun memiliki karakteristik wilayah, sosial, dan ekonomi yang beragam, mulai dari kawasan pertanian, permukiman padat penduduk, hingga wilayah penyangga industri dan jasa.
Pemerintahan Desa Karangjati

(Ilustrasi Gambar: Kantor Desa Karangjati dan struktur pemerintahan)
Dalam penyelenggaraan pemerintahan desa, Desa Karangjati dipimpin oleh Kepala Desa H. Kuyatip, SH., MH, yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh perangkat desa serta Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Struktur pemerintahan desa disusun sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, serta Permendagri Nomor 84 Tahun 2015 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa, yang meliputi unsur Sekretariat Desa, Pelaksana Teknis, dan Pelaksana Kewilayahan.
Pemerintah Desa Karangjati berkomitmen untuk menjalankan pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat, baik dalam bidang administrasi, pembangunan, pembinaan, maupun pemberdayaan masyarakat.
Prestasi dan Perkembangan Desa
Dalam perjalanan sejarahnya, Desa Karangjati telah menorehkan berbagai prestasi membanggakan, di antaranya:
- Juara I Lomba Karnaval Desa tingkat Kecamatan (1993, 2008, 2016, 2024)
- Juara I Lomba Desa tingkat Kabupaten Pasuruan (2018)
- BUMDes terbaik tingkat Provinsi Jawa Timur (2019)
Prestasi tersebut menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah desa dan masyarakat dalam membangun desa secara berkelanjutan.
Ringkasan
Dengan potensi wilayah yang strategis, sumber daya manusia yang dinamis, serta nilai sejarah dan budaya yang kuat, Desa Karangjati terus bergerak maju dalam mewujudkan pembangunan desa yang berkelanjutan.
Melalui penguatan tata kelola pemerintahan dan pemanfaatan teknologi informasi seperti website resmi desa, Pemerintah Desa Karangjati berharap dapat meningkatkan keterbukaan informasi publik serta mempererat hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat.
“Maju Bersama Membangun Desa, Menuju Masyarakat Adil, Makmur, dan Sejahtera.”

Sejarah dan Legenda Terbentuknya Desa Karangjati
Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan
Secara kultural, asal-usul terbentuknya wilayah Desa Karangjati tidak dapat dilepaskan dari cerita lisan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun, serta jejak peninggalan sejarah yang masih dapat dijumpai hingga saat ini. Kisah tentang para sesepuh desa atau tokoh babat alas menjadi bagian penting dalam membentuk identitas wilayah Karangjati, baik dari sisi penamaan dusun, tata ruang, maupun nilai-nilai sosial masyarakatnya.
Nama Karangjati sendiri diyakini berasal dari kondisi alam masa lampau, di mana wilayah ini didominasi tanah berbatu (karang) serta banyak ditumbuhi pohon jati. Pohon jati kala itu tidak hanya menjadi penanda alam, tetapi juga simbol kehidupan dan kekuatan ekonomi masyarakat awal. Dari perkumpulan para perintis wilayah inilah kemudian muncul kesepakatan untuk menamai wilayah tersebut sebagai Karangjati, sebuah nama yang mencerminkan keterikatan kuat antara manusia dan alam sekitarnya.
Desa Karangjati Memiliki 8 ( Delapan ) Dusun Diantaranya :
1. Dusun Karangkepuh
Dusun Karangkepuh memiliki keterkaitan erat dengan sosok Mbah Gimbal atau Mbah Kepuh, yang diyakini sebagai sesepuh babat alas dusun karangkepuh. Makam Mbah Gimbal hingga kini berada di makam umum Dusun Karangkepuh yang masih terjaga dan masih sering diziarahi warga sekitar maupun luar daerah.
Riwayat penamaan Karangkepuh sendiri berasal dari keberadaan pohon kepuh yang dahulu tumbuh besar dan menjadi penanda wilayah. Seiring perkembangan zaman, pohon tersebut sudah tidak lagi dijumpai, namun namanya tetap lestari sebagai identitas dusun.
2. Dusun Kedungrejo
Tokoh babat alas Dusun Kedungrejo dikenal dengan nama Mbah Aryo Wiryo, yang makamnya berada di pemakaman umum dusun. Nama Kedungrejo berakar dari kondisi geografis wilayah yang banyak terdapat kedung atau dawuhan (bagian sungai yang dalam), seperti Kedung Gedhe, Kedung Miri, Kedung Jambu, Kedung Watu Dakon, Kedung Watu Miring, dan Kedung Guyangan.
Saat ini, kedung yang masih dapat dijumpai adalah Kedung Gedhe yang berada di bawah jembatan sungai besar.
Awalnya dusun ini bernama Dusun Kedung, kemudian berubah menjadi Kedungrejo pada tahun 1970-an pada masa pemerintahan Bapak Widajat Paluwi. Kedung berarti dawuhan, sedangkan rejo bermakna makmur.
3. Dusun Kalitengah
Sesepuh babat alas Dusun Kalitengah dikenal dengan nama Mbah Cholifah, yang makamnya berada di makam umum dusun. Penamaan Kalitengah merujuk pada kondisi wilayah yang di tengah-tengahnya terdapat aliran kali atau sungai yang membentang dan seolah membelah dusun tersebut menjadi dua bagian.
4. Dusun Jatianom
Dusun Jatianom memiliki cerita kuat yang berkaitan langsung dengan identitas Desa Karangjati. Tokoh sesepuh babat alas dusun ini adalah Mbah Harjono Sigit Fadil dan Mbah Eyang Ismoyojati (Eyang Jati), meskipun hingga kini lokasi makam keduanya belum diketahui secara pasti.
Riwayat Jatianom berawal dari keberadaan pekarangan pohon jati di sisi kanan jalan raya arah Malang. Sisa pohon jati tersebut masih dapat dijumpai hingga sekarang dalam bentuk pohon jati muda. Pekarangan pohon jati atau Karang Jati inilah yang kemudian menjadi dasar penamaan Desa Karangjati, sesuai hasil musyawarah pemerintah desa dan para tokoh masyarakat pada masa itu.
5. Dusun Jetak
Sesepuh babat alas Dusun Jetak dikenal dengan nama Mbah Simokerto. Lokasi makamnya memiliki tiga versi yang berkembang di masyarakat, yakni di Makam Cangkring, di dekat perempatan Jetak, dan di belakang Warung Rawon Bu Sudar.
Dusun Jetak pada masa lampau dikenal sebagai wilayah yang maju secara sosial dan ekonomi. Letaknya yang strategis di perempatan jalur mobilitas antarwilayah menjadikannya pusat aktivitas perdagangan, pasar desa, serta lokasi Sekolah Rakyat pada masa itu.
6. Dusun Lebaksari
Dusun Lebaksari memiliki tokoh sesepuh bernama Mbah Sayyid Abdullah, yang makamnya terletak di sebelah selatan dusun dan terpisah dari pemakaman umum. Karena letaknya yang khusus, makam ini dikenal masyarakat sebagai makam keramat.
Konon, Mbah Sayyid Abdullah melakukan pelarian dari sebuah kerajaan sebelum akhirnya menetap dan membuka wilayah yang kini dikenal sebagai Dusun Lebaksari. Di area makam tersebut terdapat beberapa makam, dengan berbagai versi cerita yang berkembang di masyarakat.
7. Dusun Sangarejo
Tokoh babat alas Dusun Sangarejo adalah Buyut Podi dan Mbah Citro. Makam Buyut Podi berada di tengah perumahan warga, sedangkan makam Mbah Citro terletak di bagian selatan dusun, keduanya terpisah dari makam umum.
Dahulu dusun ini bernama Dusun Sangar, yang berarti rimbun atau singup, sehingga wilayahnya dikenal angker. Di dalamnya terdapat kawasan bernama Ngembak, yang berarti rawa-rawa, serta sumber air besar yang masih mengalir hingga kini dan dikenal dengan nama Sumbersuren.
Nama Sangar berubah menjadi Sangarejo pada tahun 1970-an pada masa pemerintahan Bapak Widajat Paluwi, dengan makna sangar (rimbun) dan rejo (ramai serta makmur).
8. Dusun Sukorejo
Sesepuh babat alas Dusun Sukorejo adalah Mbah Syekh Abdul Rohman, dengan lokasi makam yang terpisah dari pemukiman warga dan pemakaman umum. Makam tersebut berada di tengah kebun tebu, berdekatan dengan wilayah Desa Durensewu.
Awalnya dusun ini bernama Dusun Korjo, kemudian berubah menjadi Sukorejo pada tahun 1970-an. Perubahan nama ini dilatarbelakangi keberadaan pohon suko di wilayah tersebut, dan ditetapkan melalui musyawarah para tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Penutup
Keseluruhan kisah para sesepuh dan legenda babat alas tersebut menjadi fondasi sejarah dan identitas Desa Karangjati. Nilai-nilai kebersamaan, musyawarah, penghormatan terhadap leluhur, serta keterikatan dengan alam masih terus dijaga oleh masyarakat hingga saat ini. Sejarah dan legenda ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan warisan budaya yang membentuk jati diri Desa Karangjati sebagai desa yang berakar kuat pada tradisi dan kebersamaan.
